Profil Orang Terkaya Pertama Di Indonesia 2011

Diposting oleh Brankas Everything

Berita fenomenal kali ini datang dari orang terkaya di Indonesia 2011. Majalah Forbes baru-baru ini merilis daftar orang terkaya di Indonesia untuk tahun 2011. Setiap tahunnya, majalah ini selalu merilis daftar-daftar orang-orang yang mempunyai kekayaan yang tinggi di dunia dan Indonesia. Di antara 1.210 orang terkaya di dunia dalam daftar Forbes ada satu pengusaha dari Indonesia yang menempati urutan orang terkaya di dunia ke-208. Berikut Profil Orang Terkaya No. 1 Di Indonesia tahun 2011:


Robert Budi Hartono 




Yang menempati Posisi Pertama Orang Terkaya Di Indonesia Pada Tahun 2011 adalah Robert Budi Hartono (Oei Hwie Tjhong). Robert Budi Hartono lahir di Kudus tahun 1941. Robert Budi Hartono adalah pemilik dari salah satu perusahaan rokok kretek terbesar di Indonesia, Djarum. Selain itu Robert Budi Hartono mendapat pemasukan besar dari Bank Central Asia dan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Djarum kini tercatat sebagai produsen rokok kretek terbesar ketiga di Indonesia, setelah Gudang Garam dan HM Sampoerna. Pada tahun 2002, Djarum menjadi pemegang saham mayoritas (51%) di BCA lewat Faralon Capital Management. BCA  tumbuh pesat dan menjadi bank terbesar dari sisi jumlah nasabah. Kinerjanya pun cukup gemilang. Hingga 30 September 2010, BCA berhasil meraup laba hingga Rp 6,1 triliun, meningkat 20,0% dibandingkan Rp 5,1 triliun yang dicetak pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Robert Budi Hartono adalah anak kedua dari Oei Wie Gwan, pendiri Djarum. Ia adalah orang terkaya ke-10 di Asia Tenggara dan ke-321 di dunia pada tahun 2005 menurut majalah Forbes, dengan kekayaan sebesar 2,3 miliar dolar AS.  Sebelumnya, pada tahun 2004, ia berada di posisi ke-8 dengan kekayaan sebesar 2,2 miliar dolar AS. 

Robert Budi Hartono Menempati Posisi Pertama orang paling kaya di Indonesia tahun 2011 dan berada di posisi ke-208 dari 1.210 orang terkaya di dunia tahun 2011. total kekayaannya sebesar 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 45 triliun (kurs Rp 9.000 per dollar AS).